Kisah Cinta Xiota

Xiota duduk dibangku taman kota dengan gugup. Dia dan sahabatnya, Meihan berjanji untuk bertemu di taman ini. Sambil mendesah kecil, dia mengambil sebuah kotak merah kecil yang dia bawa khusus untuk Meihan. Sesekali dia mengintip isi kotak itu dan mendesah kecil.
"Xiota? Apa kau sudah lama menunggu?"
Xiota menengok kearah suara itu. Meihan berjalan dengan santai kearah Xiota. Melihat kedatangan Meihan yang semakin dekat itu, Xiota menjadi bertambah gugup.
"apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Meihan sekali lagi. "a—ah… ti—tidak kok! A—aku juga baru datang!" kata Xiota tergagap.
Xiota memperhatikan Meihan. Dia tidak berubah sedikitpun. Menggunakan baju biasa dengan dandanan biasa. Semuanya biasa. Tapi tetap saja, bagi Xiota, Meihan tetap cantik.
Xiota dan Meihan pernah menjadi teman seperjalanan. Tapi, mereka berpisah dan sudah lama tidak saling mengabari satu sama lain. Namun akhirnya merekapun bisa berkomunikasi lagi dan bisa bertemu sekarang.
"apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Meihan yang merasa resah diamati oleh Xiota. "a—ah iya, a—aku hampir lupa!" Kata Xiota sambil meraih kotak yang hendak diberikan olehnya kepada Platina.
"hoooooi~"
Meihan dan Xiota menengok kearah suara itu. Xiota kembali memasukkan kotak merah itu kedalam sakunya.
Tianlo berjalan riang kearah Meihan dan Xiota. Wajahnya seperti biasa, bersemangat. Bajunya juga seperti biasa. Tidak ada yang berubah.
"ada apa~ udara disekitar kalian sepertinya sangat serius~" Kata Tianlo dengan suara yang lucu, seperti biasa.
"tidak juga. Kami hanya berbincang-bincang kecil. Tidak ada yang penting" Kata Meihan santai. "a—ah! I—iya!" Timpal Xiota tergagap.
"ooh~ sepertinya aku mengerti apa yang terjadi disini~" Tianlo tersenyum nakal melihat tingkah tidak biasa dari sahabat kecilnya itu.
"a—apa maksudmu? … a—ada apa dengan wajah aneh itu?" Tanya Xiota tergagap. Merasa rencananya yang telah tersusun rapi sudah terbongkar oleh Tianlo.
"ups~ aku harus pergi sekarang~ semoga beruntung, Xiota~" seru Tianlo sambil berjalan riang meninggalkan Xiota sebelum dia dilempar batu-bata oleh Xiota.
"semoga beruntung apa?" Tanya Meihan. Xiota kembali melihat kearah Meihan dengan wajah memerah. "umm… b—bukan apa-apa!" seru Xiota panik. "kalau begitu… aku pergi dulu…" Kata Meihan pelan sambil beranjak pergi.
"T—tunggu!" Seru Xiota sambil menggenggam tangan Meihan. Membuat Meihan dan Xiota sama-sama memerah. "a—apa?" Tanya Meihan tergagap. Xiota melepas genggamannya dan mengambil sebuah kotak kecil. "k—kumohon, t—terimalah…" Kata Xiota tergagap.
Meihan mengambil kotak itu dan membukanya. "Y—Ya ampun… Xi—Xiota…" Kata Meihan tergagap sambil mengambil isi kotak tersebut.
Sebuah kalung emas yang mungil. "erm… a—aku tahu kau punya banyak benfa seperti itu dirumahmu… k—kau boleh membuang itu kalau kau mau…" Kata Xiota tergagap. Meihan tersenyum dan segera memakai kalung tersebut. Wajah Xiota langsung memerah. "untuk apa aku buang ini? Ini hadiah terindah yang pernah ku dapat." Kata Meihan sambil mencium pipi Xiota.
Kini Xiota mengetahui sesuatu. Meihan memang berubah. Dia menjadi lebih… dewasa dan tidak egois. Tapi tetap saja…
Perasaannya pada Meihan tetap tidak akan berubah.
-xxxxx-
Dari balik pohon, Tianlo tersenyum melihat adegan kedua sahabatnya itu. "hehehe~ selamat ya Xiota~" Seru Tianlo sambil beranjak pergi.